Sabtu, Oktober 31, 2009
Fun Active Experential
Malam itu, ketika sedang keroyokan bikin profil untuk sekolah para bocah, terekspos lagi aku soal kurikulum SAI. Di sana tercantum kalimat "membangun tradisi ilmiah dengan metoda belajar fun active experential".
Teringat kelakuan The Third beberapa hari sebelumnya ketika malam-malam, kami berdua sibuk memasang perangkap tikus berupa selembar kardus tebal dengan lem. Menurut brosur, lem itu tidak berbau dan gajah sekalipun tidak akan mampu lepas darinya
Penuh minat didekatkan hidungnya ke lembar lem tersebut. Terlihat tuh kebiasaan di sekolah yang terbawa ke rumah.
"Bener nih tidak berbau..." gumamnya sambil terus mengendus-endus.
" Auuwww..." teriaknya ketika pucuk hidungnya menyentuh lem tersebut. Panik.. cepat ditarik hidungnya...
Alhamdulilah.. lepas... meski ada secuil lem nempel di hidungnya.
"He..he... gak mantap tuh lemnya Bah...coba liat aja besok.." komentarnya cengar-cengir sambil mengusap-usap pucuk hidungnya.
Paginya... experiment-nya terbukti... Ikan umpan hilang dari lembar perangkap... tikusnya entah dimana....
Teringat kelakuan The Third beberapa hari sebelumnya ketika malam-malam, kami berdua sibuk memasang perangkap tikus berupa selembar kardus tebal dengan lem. Menurut brosur, lem itu tidak berbau dan gajah sekalipun tidak akan mampu lepas darinya
Penuh minat didekatkan hidungnya ke lembar lem tersebut. Terlihat tuh kebiasaan di sekolah yang terbawa ke rumah.
"Bener nih tidak berbau..." gumamnya sambil terus mengendus-endus.
" Auuwww..." teriaknya ketika pucuk hidungnya menyentuh lem tersebut. Panik.. cepat ditarik hidungnya...
Alhamdulilah.. lepas... meski ada secuil lem nempel di hidungnya.
"He..he... gak mantap tuh lemnya Bah...coba liat aja besok.." komentarnya cengar-cengir sambil mengusap-usap pucuk hidungnya.
Paginya... experiment-nya terbukti... Ikan umpan hilang dari lembar perangkap... tikusnya entah dimana....
Kamis, Juni 25, 2009
Dunia Bocah? Waspadalah...!
Berawal dari kejadian yang nampaknya sepele.
Ketika dinner, The Third & Second, terlibat perang mulut rutin.
Sambil beradu kata, Third memasukkan cuka ke dalam mangkok kimlo.
Menu dinner saat itu.
Dan sepertinya tak ada yang luar biasa.
Sampai 2 jam kemudian, Third bilang perutnya sakit dan mau ke WC.
Itupun masih dikira sakit perut biasa.
“Makan apa kamu?” sambil coba membalur perutnya dengan kayu putih, saya mencoba mengorek data.
“Tadi makan Kimlonya ditambah cuka”
“ Berapa banyak…?”
Tidak menjawab, Third malah berguling-guling di tempat tidur sambil berteriak histeris kesakitan.
Selanjutnya, seperti sebuah episode sinetron.
Cepat dan seolah tak masuk akal.
Dengan dugaan keracunan, Third kami bawa ke IGD.
Setelah menunggu berjam-jam mendaratlah kami di ruang rawat.
Keesokkan harinya, ketika bawelnya sudah kembali, saya bertanya,
“Kamu makan cuka berapa banyak?”
“ Satu tutup botol cuka...”katanya santai
“Hah…? Satu tutup cuka untuk satu mangkok kecil makanan berkuah separuhnya... ?" Saya menggeleng-geleng kepala.
Tidak habis pikir.
Bagaimana rasa asam begitu parah bisa lolos dari mulut masuk ke lambung...?
Kok ya gak diludahkan...?
Apa gak terasa di lidah kalo keasaman...?
Miracle…
Itulah Dunia Bocah.
Miracle, bahkan untuk sebuah accident.
Sesuatu yang tak akan habis dimengerti oleh dunia orang dewasa.
Waspadalah…
Ketika dinner, The Third & Second, terlibat perang mulut rutin.
Sambil beradu kata, Third memasukkan cuka ke dalam mangkok kimlo.
Menu dinner saat itu.
Dan sepertinya tak ada yang luar biasa.
Sampai 2 jam kemudian, Third bilang perutnya sakit dan mau ke WC.
Itupun masih dikira sakit perut biasa.
“Makan apa kamu?” sambil coba membalur perutnya dengan kayu putih, saya mencoba mengorek data.
“Tadi makan Kimlonya ditambah cuka”
“ Berapa banyak…?”
Tidak menjawab, Third malah berguling-guling di tempat tidur sambil berteriak histeris kesakitan.
Selanjutnya, seperti sebuah episode sinetron.
Cepat dan seolah tak masuk akal.
Dengan dugaan keracunan, Third kami bawa ke IGD.
Setelah menunggu berjam-jam mendaratlah kami di ruang rawat.
Keesokkan harinya, ketika bawelnya sudah kembali, saya bertanya,
“Kamu makan cuka berapa banyak?”
“ Satu tutup botol cuka...”katanya santai
“Hah…? Satu tutup cuka untuk satu mangkok kecil makanan berkuah separuhnya... ?" Saya menggeleng-geleng kepala.
Tidak habis pikir.
Bagaimana rasa asam begitu parah bisa lolos dari mulut masuk ke lambung...?
Kok ya gak diludahkan...?
Apa gak terasa di lidah kalo keasaman...?
Miracle…
Itulah Dunia Bocah.
Miracle, bahkan untuk sebuah accident.
Sesuatu yang tak akan habis dimengerti oleh dunia orang dewasa.
Waspadalah…
Ditegur Bocah
Ilmu adalah hikmah.
Bahkan ketika itu meluncur dari mulut seorang bocah.
Suatu ketika di rumah eyangnya, The Second menegur budenya,
"Bude kok gak pake jilbab?”
“Kan bude di rumah sendiri”
“Tapi kan ada orang yang bukan muhrim…” katanya tetap berkeras.
“Siapa?” tanya sang bude lagi.
"Abah. Abah kan bukan muhrim bude. Jadi Bude harus tetap pake kerudung, walaupun di rumah bude…”.
Selesai berkata, si bocah ngeloyor dengan enteng.
Sementara si Bude hanya senyum-senyum kecut, “ Sok tau tuh anak…”
Lho...?
Betapa kita orang dewasa, sering tidak siap menghadapi teguran dari seorang bocah…
Bahkan ketika itu meluncur dari mulut seorang bocah.
Suatu ketika di rumah eyangnya, The Second menegur budenya,
"Bude kok gak pake jilbab?”
“Kan bude di rumah sendiri”
“Tapi kan ada orang yang bukan muhrim…” katanya tetap berkeras.
“Siapa?” tanya sang bude lagi.
"Abah. Abah kan bukan muhrim bude. Jadi Bude harus tetap pake kerudung, walaupun di rumah bude…”.
Selesai berkata, si bocah ngeloyor dengan enteng.
Sementara si Bude hanya senyum-senyum kecut, “ Sok tau tuh anak…”
Lho...?
Betapa kita orang dewasa, sering tidak siap menghadapi teguran dari seorang bocah…
Jejak Kasih Yang Terlupakan
Bontot sedang sakit.
Sudah 2 hari demam.
Bocah periang itu kini memilih berbaring terus.
Pusing katanya.
Belum lagi jatah makan yang jadi kacau balau.
Susah masuk, mudah keluar.
Pun dengan porsi yang jauh dari cukup.
Malam terbangun, tidur tak nyenyak.
Bagi orang tua, inilah saat-saat yang mencemaskan.
Pikiran saya mengembara.
Di klinik, seorang nenek yang datang berobat dengan terhuyung-huyung.
Sendirian.
Tidak adakah yang mengantar?
Tak ada jawaban.
Hanya air mata yang berurai.
Menetes melalui keriput-keriput ketuaan di wajahnya.
Wajah yang tak lagi tegar untuk menyimpan dukanya sendiri.
Tangannya bergemetaran.
Kaki yang tak kokoh lagi, bahkan untuk menopang tubuhnya sendiri.
Dan meluncurkan kisah sedih seorang tua.
Hampir seluruh usia dihabiskannya untuk sebuah pengabdian atas nama seorang ibu.
Membesarkan anak-anaknya yang berjumlah 7 seorang diri
20 tahun sudah lewat ketika suami meninggalkannya.
Kerja serabutan apapun itu dilakoninya,asal halal dan bisa memastikan bahwa ada yang dibawa pulang untuk makan.
Dan kini, ketika bocah-bocahnya sudah tegak mandiri.
Bekerja, menikah, berkeluarga dan punya anak.
Penyakit-penyakit tua mulai menghampirinya.
Obat mungkin bisa membantu mengurangi penyakit fisiknya.
Namun, tak ada yang bisa meraba kesembuhan hati seorang tua yang sakit, ketika tak seorang pun dari anak-anaknya yang bersedia mengantar pergi berobat dengan alasan sibuk.
Duhai, para anak...
Dimanakah kita ketika ibu dan bapak kita membutuhkan kita...?
Tak adakah kenangan yang mengingatkan betapa ketika kita bocah, mereka selalu di sisi kita.
Bahkan sebelum kita sempat memintanya.
Mereka berikan semua yang mereka punya, bahkan mengais-ngais untuk yang tidak mereka punya.
Erangan bontot menyadarkan lamunan saya.
Inilah saat-saat yang menghadirkan lintasan sejarah ketidakberdayaan kita sebagai seorang anak.
Lalu, apakah ada alasan kita untuk melupakannya...?
Duhai para anak, sudahkan kita menyapa bunda dan ayah kita hari ini…(juga mendoakannya...)?
“ Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam uisa dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu..."
Sudah 2 hari demam.
Bocah periang itu kini memilih berbaring terus.
Pusing katanya.
Belum lagi jatah makan yang jadi kacau balau.
Susah masuk, mudah keluar.
Pun dengan porsi yang jauh dari cukup.
Malam terbangun, tidur tak nyenyak.
Bagi orang tua, inilah saat-saat yang mencemaskan.
Pikiran saya mengembara.
Di klinik, seorang nenek yang datang berobat dengan terhuyung-huyung.
Sendirian.
Tidak adakah yang mengantar?
Tak ada jawaban.
Hanya air mata yang berurai.
Menetes melalui keriput-keriput ketuaan di wajahnya.
Wajah yang tak lagi tegar untuk menyimpan dukanya sendiri.
Tangannya bergemetaran.
Kaki yang tak kokoh lagi, bahkan untuk menopang tubuhnya sendiri.
Dan meluncurkan kisah sedih seorang tua.
Hampir seluruh usia dihabiskannya untuk sebuah pengabdian atas nama seorang ibu.
Membesarkan anak-anaknya yang berjumlah 7 seorang diri
20 tahun sudah lewat ketika suami meninggalkannya.
Kerja serabutan apapun itu dilakoninya,asal halal dan bisa memastikan bahwa ada yang dibawa pulang untuk makan.
Dan kini, ketika bocah-bocahnya sudah tegak mandiri.
Bekerja, menikah, berkeluarga dan punya anak.
Penyakit-penyakit tua mulai menghampirinya.
Obat mungkin bisa membantu mengurangi penyakit fisiknya.
Namun, tak ada yang bisa meraba kesembuhan hati seorang tua yang sakit, ketika tak seorang pun dari anak-anaknya yang bersedia mengantar pergi berobat dengan alasan sibuk.
Duhai, para anak...
Dimanakah kita ketika ibu dan bapak kita membutuhkan kita...?
Tak adakah kenangan yang mengingatkan betapa ketika kita bocah, mereka selalu di sisi kita.
Bahkan sebelum kita sempat memintanya.
Mereka berikan semua yang mereka punya, bahkan mengais-ngais untuk yang tidak mereka punya.
Erangan bontot menyadarkan lamunan saya.
Inilah saat-saat yang menghadirkan lintasan sejarah ketidakberdayaan kita sebagai seorang anak.
Lalu, apakah ada alasan kita untuk melupakannya...?
Duhai para anak, sudahkan kita menyapa bunda dan ayah kita hari ini…(juga mendoakannya...)?
“ Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam uisa dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu..."
Rabu, Juni 17, 2009
Wajah Lain Strawberry - Berjuta Rasa OTFA 3
Anda diberikan sejumput strawberry
Berapa macam masakan anda bisa buat ?
Di tangan koki-koki cilik itu, jadilah
- Pan cake strawberry
- Mie goreng strawberry ajib
- Kentang goreng saus strawberry
- Oreo strawberry
- Puding strawberry narsis
- Sate coklat strawberry
- Roti strawbery
"Wow, susplendid..." celetuk seorang juri
" Namanya saus strawberry... tapi rasanya pedasssss...." lanjutnya
Sementara tangannya terus mencocol kentang rasa strawberry pedas itu
"Yang ini juga antik, butuh teknik masak tinggi ..." juri lain komentar
"Iya.. nih, masak pan cake pake kompor parafin..." tambah seorang juri wanita
" Selai strawberrynya begitu terasa.., benar- benar unik ..."kembali juri ke-1 bersuara
" Ini nih... juaranya..." simpul juri wanita tadi
Sebuah pembelajaran yang indah...
Perpaduan kreativitas, persiapan dan kesabaran Yang Mulia para Guru Kepala Suku
Antusiasme, keingintahuan, partisipasi dan keingian kerja bersama koki-koki cilik itu...
----
Label: OTFA, sekolah alam
Senin, Juni 15, 2009
Perjuangan Terberat - Sejuta Rasa OTFA 2
bawa bekalmu
Hadapi rintangan
Selalu Smangat
Jangan Lengah
Allah Tujuan
Gagah ...
Berani ...
Cerdas...
Dan berahlak Mulia "
Mars OTFA 2009 yang selalu terdengar
Berkumandang di antara wajah-wajah yang sumringah itu
Setitik tanya sempat terbetik
Sisi mana dari perjalanan ini yang terasa berat
Jelajah malamkah? Dalam sergapan gelap dan sengatan dingin yang menghujam sampai tulang
Ataukah Elvis, ketika meniti tali di ketinggian pucuk kelapa
Barangkali aral lintang, merangkak menyusur lajur di antara aliran air dan belukar
"Aku kangen loh sama ibuku," bisik si baju biru pada temannya
Ditangan, tergenggam hadiah satu fun advanture yang baru dijalaninya
Muka dan bajunya masih berlumur lumpur
" He eh, aku juga, " jawab temannya, identik kuyupnya
" Sstt.... di tenda tadi malam aku sempet nangis lho.." sambung si baju biru sambil menghentikan langkah
Terpekur sejenak, temannya berkata, " Udahh... abis ini kita kan mandi, nanti siang pulang... bentar lagi koq" lanjutnya menghibur
" Balapan ke pemandian yokkk..." tantangnya kemudian
Bergegaslah mereka berdua... berlari saling mengejar...
"Gagah
Berani
Cerdas
Dan berahlak mulia..."
[di belakang mereka, waktuku tak berdetak sejenak]
---------
Label: OTFA, sekolah alam
Berjuta Rasa OTFA
Mulanya, hanya ingin jajal dan nambah ilmu motret
Barangkali bisa merekam dan membingkai keindahan alam dan aksi peserta Out Tracking and Fun Advanture Sekolah Alam Ciganjur 2009
But, I was too close and fall in too deep
Anak-anak itu, toh masih sempat tertawa dalam selimut gelap jam 3an
Meski kaki lengket terjerat lumpur dan dingin menggigit kulit tak tertutup skebo
Saat terjawab tugas perdana di pos satu pagi itu
"I-kan dan G-ajah "
Dan Yang Mulia Para Guru
Tentu saja, terjaga paling awal, terlelap paling akhir
Berendah hati, angkat-angkut barang peralatan
Memanjangkan sumbu sabar, mengayomi peserta menjawab tantangan
Membantu mereka mengalahkan diri
Bersama mendorong teman lain turut mandiri
I wish I had more to help
-----
Label: OTFA, sekolah alam
Sabtu, Juni 13, 2009
Kepedean - Menjadi OTS 3
Pagi yang indah, di kampus Sekolah Alam Ciganjur
Bersama istri, di antara sebuah pertemuan komunitas dan pengajian, kami duduk menghampar menikmati sajian, tes baca deklamasi kelas 3 SD, kelasnya The Third
Saung sebagai panggung, dilengkapi mic dan pengeras suara dan Pak Guru sebagai juri, tes di mulai
Sekian detik ribut soal urutan, akhirnya Si Nomor 1 tampil
Bak membaca cerita, cepat dan datar, selesailah tugas
Kemudian nomor 2,3,4 dan 5 tak terlalu beda
Padahal Pak Guru sudah berulang mengingatkan soal intonasi, mimik dan penjiwaan
Gemas, akupun maju ke depan
Meminta ijin Pak Guru, untuk sekedar memberi contoh
Tentu saja, mata-mata kecil itu heran memandang
Tak ku acuhkan, kubaca sebuah puisi yang kupinjam dari tangan The Third
"Keinginanku, karya Lia Andani Putri" bacaku
" Satu...
" Yang Kuinginkan...", lanjutku tenang, mencoba berdeklamasi
Bait ke dua, terlihat The Third, bergerak pindah ke balik punggung temannya
"Pergi..!!!" kubesarkan suaraku
"Enyahlah.." telunjukku menunjuk udara sambil terus membaca
Hingga akhirnya
"Jadikanlah negeri kami...."
"Sebuah negeri yang cinta damai"
Sambil menutup, kedua telapak tangan, ku bungkuk kan badan
Hormat pada penonton-penonton kecil di depan
Kemudian kembali ke tikar lesehan
Sempat terdengar, komentar The Third, " Aduh kepedean nih Abah"
Tes deklamasi berlanjut
No 6 tampil, masih datar, meskipun sudah mulai mengekspresikan tubuhnya untuk gerakan seperti puisi yang di bacanya
No 7, suaranya berayun, terdengar jeda antar kata
Lalu jeda antar baris
Alhamdulillah...
Bersama istri, di antara sebuah pertemuan komunitas dan pengajian, kami duduk menghampar menikmati sajian, tes baca deklamasi kelas 3 SD, kelasnya The Third
Saung sebagai panggung, dilengkapi mic dan pengeras suara dan Pak Guru sebagai juri, tes di mulai
Sekian detik ribut soal urutan, akhirnya Si Nomor 1 tampil
Bak membaca cerita, cepat dan datar, selesailah tugas
Kemudian nomor 2,3,4 dan 5 tak terlalu beda
Padahal Pak Guru sudah berulang mengingatkan soal intonasi, mimik dan penjiwaan
Gemas, akupun maju ke depan
Meminta ijin Pak Guru, untuk sekedar memberi contoh
Tentu saja, mata-mata kecil itu heran memandang
Tak ku acuhkan, kubaca sebuah puisi yang kupinjam dari tangan The Third
"Keinginanku, karya Lia Andani Putri" bacaku
" Satu...
" Yang Kuinginkan...", lanjutku tenang, mencoba berdeklamasi
Bait ke dua, terlihat The Third, bergerak pindah ke balik punggung temannya
"Pergi..!!!" kubesarkan suaraku
"Enyahlah.." telunjukku menunjuk udara sambil terus membaca
Hingga akhirnya
"Jadikanlah negeri kami...."
"Sebuah negeri yang cinta damai"
Sambil menutup, kedua telapak tangan, ku bungkuk kan badan
Hormat pada penonton-penonton kecil di depan
Kemudian kembali ke tikar lesehan
Sempat terdengar, komentar The Third, " Aduh kepedean nih Abah"
Tes deklamasi berlanjut
No 6 tampil, masih datar, meskipun sudah mulai mengekspresikan tubuhnya untuk gerakan seperti puisi yang di bacanya
No 7, suaranya berayun, terdengar jeda antar kata
Lalu jeda antar baris
Alhamdulillah...
Label: sekolah alam
Jumat, Mei 01, 2009
Never Got The Chance Before
http://www.youtube.com/watch?v=RxPZh4AnWyk&feature=related
Sudah lihat video di atas kan ? Amazing ya... Di usia 47 tahun, Susan Boyle, an un-employed lady, mencoba mewujudkan mimpi dengan bakat besar yang begitu lamaaaaa terpendam.
Katanya, " I've never got the chance before"
Kelebihan jaman sekarang, jaman anak-anak kita ini adalah, begitu banyak media yang bisa digunakan untuk mengentaskan sebuah bakat. Lihatlah acara-acara TV kita, meski masih berkutat di sekitar bakat-bakat seni, tapi jalur yang ada sangat bisa dipakai untuk meretas sebuah bakat.
Atau lihat lah berita tentang keberhasilan pelajar-pelajar Indonesia di beberapa event olimpiade ilmu pengetahuan.
Olahraga ? Kalau di luar sana, lihatlah dunia tenis yang kini dikuasai para dewasa muda. Nadal, sudah jadi memenangkan pertandingan pertama untuk rangking ATP di usia 15 tahun. Sekarang di usianya ke 22 tahun sudah pegang 35 gelar juara, termasuk Grand Slam dan medali emas Olimpiade 2008.
So.., sudahkah kita lihat bakat anak-anak kita? Jangan sampai seperti syair lagu yang dinyanyikan Susan.
"It seems my life is killed the dream I dream " (bener gak tuh tulisannya)
Sudah lihat video di atas kan ? Amazing ya... Di usia 47 tahun, Susan Boyle, an un-employed lady, mencoba mewujudkan mimpi dengan bakat besar yang begitu lamaaaaa terpendam.
Katanya, " I've never got the chance before"
Kelebihan jaman sekarang, jaman anak-anak kita ini adalah, begitu banyak media yang bisa digunakan untuk mengentaskan sebuah bakat. Lihatlah acara-acara TV kita, meski masih berkutat di sekitar bakat-bakat seni, tapi jalur yang ada sangat bisa dipakai untuk meretas sebuah bakat.
Atau lihat lah berita tentang keberhasilan pelajar-pelajar Indonesia di beberapa event olimpiade ilmu pengetahuan.
Olahraga ? Kalau di luar sana, lihatlah dunia tenis yang kini dikuasai para dewasa muda. Nadal, sudah jadi memenangkan pertandingan pertama untuk rangking ATP di usia 15 tahun. Sekarang di usianya ke 22 tahun sudah pegang 35 gelar juara, termasuk Grand Slam dan medali emas Olimpiade 2008.
So.., sudahkah kita lihat bakat anak-anak kita? Jangan sampai seperti syair lagu yang dinyanyikan Susan.
"It seems my life is killed the dream I dream " (bener gak tuh tulisannya)
Minggu, April 26, 2009
Kasih Sayang
Rupanya sulit juga mengungkapkan kasih sayang.
Pagi itu, karena malamnya mereka tidur cepat karena kelelahan, maka diputuskan untuk memberlakukan "rukhsoh" buat para catrik laki. "Gak usah dibangunin, Shubuhnya di rumah saja. Mungkin mereka terlalu cape."
Dari balik pintu, terlihat betapa lelapnya mereka. Yap baiklah. Lalu mantap, aku berangkat sendiri.
Ditengah rokaat kedua, terdengar suara bersin-bersin anak-anak.
Dan benarlah.. setelah salam kiri-kanan, aku diserbu dua jagoan. Alhamdulillah, sudah terbiasa mereka dan sudah bisa jalan ke masjid sendiri.
Tapi, wow, sorot mata protesnya .." Kenapa kami tak di bangunkan.."
Pagi itu, karena malamnya mereka tidur cepat karena kelelahan, maka diputuskan untuk memberlakukan "rukhsoh" buat para catrik laki. "Gak usah dibangunin, Shubuhnya di rumah saja. Mungkin mereka terlalu cape."
Dari balik pintu, terlihat betapa lelapnya mereka. Yap baiklah. Lalu mantap, aku berangkat sendiri.
Ditengah rokaat kedua, terdengar suara bersin-bersin anak-anak.
Dan benarlah.. setelah salam kiri-kanan, aku diserbu dua jagoan. Alhamdulillah, sudah terbiasa mereka dan sudah bisa jalan ke masjid sendiri.
Tapi, wow, sorot mata protesnya .." Kenapa kami tak di bangunkan.."
